You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Kalurahan KALIGINTUNG

Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Prov. DI Yogyakarta
Info

Ini Obat Virus Corona COVID-19 Dijamin Bisa Sembuh dalam 3 Hari, Sudah Diuji di Laboratorium IPB


Parlindungan Sihotang berani jamin E12, bisa sembuhkan pasien positif Covid-19 dalam waktu tiga hari 



Obat Virus Corona COVID-19 adalah herbal Bioteknologi Fermentasi (E12). Dijamin sembuh dalam kurun waktu 3 hari. Demikian kata Parlindungan Sihotang, yang sudah diuji di Laboratorium IPB.

"Kami sudah berusaha untuk bisa masuk ke berbagai rumah sakit, pelaku medis, dan juga instansi farmasi, tetapi belum ada yang memberikan akses agar bisa masuk. Kita kan ingin memberikan solusi, harapannya ada kesempatan yang diberi," ujar Parlindungan Sihotang.

TERGOLONG jenis virus yang sangat baru, virus corona atau covid-19 belum banyak diketahui sifat-sifatnya secara detil.

Hal yang paling pasti dari sifat virus ini adalah, penyebarannya yang sangat cepat.

Cenderung menyerang paru-paru,  penderitanya dapat merasakan sesak nafas yang parah atau bahkan kematian. 

Demikian penjelasan Parlindungan Sihotang. 

Parlindungan Sihotang adalah pemilik rumah produksi cairan pengobatan herbal Bioteknologi Fermentasi atau E12.

Parlindungan membuat cairan fermentasi dari 12 buah yang difermentasi selama 12 hari.

Cairan herbal bioteknologi ini, terangnya, dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, termasuk penyakit yang disebabkan oleh virus corona. 

"E12 merupakan cairan fermentasi buah-buahan yang terdiri dari 12 jenis buah," kata Parlindungan Sihotang kepada Tribun Medan, Senin (23/3/2020).



"Khasiatnya bisa menyembuhkan segala macam penyakit, termasuk virus corona yang tengah merebak di masyarakat," sambungnya.

Pengujian di Laboratorium IPB

Sejak 2012, Sihotang memulai membuat cairan fermentasi ini hingga pada 2016 diuji di laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB).

Ia mengatakan bahwa hasil uji laboratorium telah membuktikan bahwa bahan-bahan alami yang difermentasikan dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Lelaki lulusan magister Pengelolaan Sumber Daya Lingkungan ini dengan optimis mengatakan, bahwa cairan fermentasinya yang sudah diproduksi hampir 10 tahun dan dipercaya dapat menyembuhkan virus corona dalam jangka waktu tiga hari.

"Karena virus Corona itu kan baru, dan dia cenderung menyerang paru-paru, sehingga penderitanya dapat merasakan sesak nafas yang parah atau bahkan kematian."

Nah berbagai kandungan yang terdapat di dalam cairan E12, saya yakin bisa mengusir virus yang ada di dalam tubuh manusia termasuk corona," ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa E12 sudah menyembuhkan berbagai penyakit berat termasuk kanker seperti kanker serviks dan lupus.

Bahkan, Parlindungan Sihotang mengklaim obat hasil buatannya ini, juga mampu menyembuhkan HIV/AIDS.

"Yang unik adalah kandungan e colli yang sama sekali tidak ada.



Sepanjang penelusuran saya tidak ada obat yang kandungan bakteri e colli nya nol," tambahnya.

Sebanyak 12 buah yang difermentasikan dengan molase atau induk gula, terang Sihotang tidak menggunakan bahan kimia sama sekali sehingga tidak memiliki efek samping.

Ia mengatakan bahwa kandungan yang terdapat di dalam cairan ini dapat mengeluarkan seluruh virus berbahaya yang terdapat di dalam tubuh.

"Cairan ini membunuh bakteri yang jahat dan menyisakan bakteri yang baik di dalam tubuh, sehingga virus yang ada di dalam tubuh keluar semua," ujarnya.

Ia berharap diberikan kesempatan untuk bisa memberikan cairan E12 nya agar dikonsumsi bagi para penderita covid-19.

Sehingga ketakutan yang menyebar di tengah masyarakat dapat berkurang.

"Kami sudah berusaha untuk bisa masuk ke berbagai rumah sakit, pelaku medis, dan juga instansi farmasi, tetapi belum ada yang memberikan akses agar bisa masuk. Kita kan ingin memberikan solusi, harapannya ada kesempatan yang diberi," ujarnya.

Lebih dari 150 negara telah mengonfirmasi temuan kasus positif Covid-19.

Sebagaimana diketahui, ratusan ribu orang terinfeksi, dan ribuan di antaranya meninggal dunia.

Meski demikian, puluhan ribu pasien yang dinyatakan positif Covid-19 kini sembuh.

Untuk menemukan vaksin dan obat untuk mengobati Covid-19, sejumlah perusahaan farmasi dan para ahli melakukan penelitian dan uji klinis.

Menginfeksi selama 3 bulan, para ahli mempelajari bagaimana virus ini bekerja, apa saja gejalanya, organ apa yang diserang, berapa lama masa inkubasi, hingga akhirnya menelaah formula yang diperkirakan tepat untuk virus dengan profil seperti itu.

Berikut ini sejumlah upaya yang dilakukan untuk sesegera mungkin temukan obat untuk sembuhkan Covid-19:

WHO uji coba 4 obat di 10 negara

Badan Kesehatan Dunia (WHO) melakukan uji coba klinis 4 obat yang berpotensi bisa menyembuhkan infeksi virus corona jenis baru.

Keempat jenis obat itu adalah antivirus remdesivir; kombinasi lopinavir dan ritonavir; kombinasi lopinavir, ritonavir, dan interferon beta; dan antimalaria klorokuin.

Uji coba ini akan diterapkan setidaknya di 10 negara yaitu Argentina, Bahrain, Kanada, Perancis, Iran, Norwegia, Afrika Selatan, Spanyol, Swiss, dan Thailand.

Uji coba akan dilakukan dalam sampel kecil yang merupakan pasien Covid-19.

Nantinya, pasien yang diberikan obat ini akan dibandingkan dengan pasien yang menerima perawatan standar yang saat ini dilakukan.

Ini dilakukan untuk mengetahui, mana di antara 4 obat yang ada yang paling efektif untuk menyembuhkan Covid-19.

Jika sudah mendapatkan pengobatan tersebut, maka akan diketahui apakah efeknya dapat memangkas waktu perawatan, mengurangi risiko kematian, atau membutuhkan perawatan lebih lanjut seperti di ICU.

"Studi internasional ini dirancang untuk menghasilkan data kuat yang kita butuhkan untuk menunjukkan obat mana yang paling efektif. Kita menyebut studi ini sebagai solidarity trial," kata Direktur Umum WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Uji coba langsung pada manusia

Proses panjang pengujian vaksin yang harus dilalui, tampaknya akan dipersingkat demi mendapatkan hasil lebih cepat untuk menangani Covid-19.

Formula vaksin yang telah dirancang kini akan langsung diujicobakan pada manusia, tanpa melalui uji coba pada hewan untuk mengetahui keamanan dan efektivitasnya.

Meski mengundang perdebatan di antara para ahli, namun tuntutan untuk bergerak, uji coba vaksin pada manusia harus segera dimulai.

Uji coba pertama akan dilakukan di Kaiser Permanente Washington Health Research Institute, Seattle, Amerika Serikat.

Sebanyak 45 sukarelawan mulai usia 18-55 tahun yang akan menerima vaksin yang sebelumnya telah dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi Moderna Therapeutics, yang diberi nama mRNA-1273.

Masing-masing dari mereka akan dibayar senilai 1.100 dollar Amerika, karena adanya risiko yang harus mereka tanggung.

Pasien sukarelawan pertama yang menerima vaksin ini diketahui identitasnya bernama Jennifer Haller (43).

Ia mengaku bersedia menjadi sukarelawan percobaan vaksin karena ingin memberi kontribusi nyata agar vaksin Covid-19 bisa segera ditemukan dan dipatenkan untuk menyembuhkan pasien lain di seluruh dunia.

Tidak hanya di Amerika, uji coba vaksin pada manusia juga akan dilakukan di Inggris.

Saat ini, Pusat Inovasi Queen Mary BioEnterprises tengah mencari 24 relawan dengan persyaratan tertentu untuk diberikan vaksin yang tengah diuji.

Mereka yang bersedia dan memenuhi syarat akan diberi imbalan sebesar 3.500 poundsterling.

Syaratnya, relawan itu haruslah orang yang sehat, bersedia disuntikkan 2 jenis virus corona, menjalani karantina 2 pekan, diet terbatas, serangkaian tes kesehatan, dan tidak diperkenankan bertemu dengan siapapun keuali dokter dan perawat yang mengawasi.

China rencanakan uji klinis vaksin pada pertengahan April

Perusahaan Farmasi CanSino Biologics di Tianjin, China, menyebutkan, akan segera melaksanakan uji coba vaksin temuannya pada manusia pada pertengahan April 2020 untuk jangka waktu 6 bulan ke depan.

Sebelumnya, vaksin ini telah diujicobakan pada hewan dan disebut aman untuk manusia, karena tidak mengandung zat-zat yang bisa menginfeksi.

Vaksin produksi CanSino Biologics merupakan 1 dari 9 vaksin yang diproduksi oleh China untuk mengatasi virus yang saat ini sudah ditetapkan WHO sebagai pandemi ini. (https://medan.tribunnews.com/)



 

 

 

 

 

 

Bagikan artikel ini: