You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Kalurahan KALIGINTUNG
Kalurahan KALIGINTUNG

Kap. Temon, Kab. Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta

Sugeng Rawuh Wonten Ing Kalurahan Kaligintung Kapanewon Temon Kabupaten Kulon Progo -- >

Baritan Malam 1 Suro ( 1 Muharrom 1441 Hijriyah )

Administrator 02 September 2019 Dibaca 1.385 Kali

Baritan sudah menjadi tradisi yang dilakukan setiap menjelang masuk bulan Muharram/Suro bertepat pada tanggal 1 Muharrom Hijriyah warga Desa Kaligintung terutama di pedukuhan Siwates Rt 015 Rw 005 Temon Kulon Progo. Tradisi ini identik dengan membawa takir perwakilan dari anggota keluarga. Takir tersebut berisi nasi yang berisikan sayur dan lauk pauk. Sayur yang biasa digunakan ialah berbagai macam kulupan. Yang tidak boleh ketinggalan dalam takir adalah janur yang di pasangkan pada takir. Pada sebuah sajian dalam takir memiliki makna sendiri-sendiri misalnya : Sambel goreng melambangkan kebersamaan karena dalam sambel goreng tersebut banyak campuran mulai dari kentang, tempe, tahu dan lain-lain. Sedangkan telur melambangkan kerja keras, karena pada zaman dahulu untuk mendapatkan telur sangat susah sehingga dibutuhkan usaha lebih untuk mendapatkannya.

Selain makanan yang dibawa oleh warga , warga  juga mengadakan iuran dana seikhlasnya untuk membeli Ayam jago 2 ekor dan 1 ekor  kambing sebagai bentuk syukuran warga Desa Kaligintung .

 

Maksud dari Baritan adalah memohon doa Allah ( سبحانه وتعالى) keselamtan dunia akherat, tolak balak dan semoga memberikan keselamatan dan Keberkahan untuk seluruh warga desa Kaligintung dan juga kelancaran dalam menjalankan aktifitas sehari-hari para warga Desa Kaligintung khususnya warga pedukuhan Siwates, serta tak lupa dan  doa Akhir tahun 1441 Hijriyah.

 

PROSES TERJADINYA BARITAN

 

Menurut para sesepuh lingkungan Proses terjadinya baritan adalah karena adanya berbagai macam bencana pada zaman dahulu, untuk itu warga desa mengadakan slametan. Tapi zaman dahulu belum banyak masjid/musholla yang didirikan sehingga untuk mengadakan baritan, maka dari itu baritan diadakan di jalan/ perempatan. Asal mula pemberian nama baritan ialah "mbubarake Peri lan Setan" (membubarkan peri dan setan). Sesuai dengan makna kepanjangannya, Baritan memang sebuah ritual / doa mohon kepada Allah (سبحانه وتعالى)  agar Masyarakat Desa Kaligintung Kecamatan Temon Kabupaten Kulon Progo  terhindar dari Balak dan Bencana, sehingga kehidupan senantiasa aman, tentram dan damai. Setelah selesai Sholat magrib warga Pedukuhan Siwates lekas datang ke ke Musholla membawa nasi beserta lauk pauk sejumlah anggota keluarganya. Setelah semua berkumpul, nasi ditaruh di tengah sedangkan para warga duduk melingkar mengelilingi nasi tersebut. Tokoh/sesepuh lingkungan kemudian melakukan doa untuk keselamatan warga dan acara selanjutnya ialah menukarkan nasi yang dibawa tadi dengan nasi yang dibawa warga yang lain. Dalam acara baritan ini warga tidak boleh memakan makanan yang dibawanya sendiri, hal Ini dimaksudkan bahwa agar bisa saling berbagi dan tidak ada pembedaan kelas diantara masyarakat desa tersebut.

Baritan dilaksanakan oleh warga sekitar, tidak ada batasan umur untuk warga yang boleh ikut baritan. Mulai dari anak bayi sampai orang tua boleh ambil bagian dalam baritan. Dengan mengajak anak-anak berharapan agar tetap ada yang melestarikan budaya tersebut.

 

TANGGAPAPAN PARA WARGA MENGENAI BARITAN

 

Masyarakat sangat bersemangat akan adanya tradisi baritan, karena selain untuk mendoakan keselamatan juga untuk menyambung tali silaturahmi. Mungkin dalam kesehariannya ada yang sibuk dengan urusan kerja, dengan adanya baritan ini mereka bisa saling bertemu dan mengobrol basa-basi. Disini juga melebur antara warga kaya ataupun miskin, mereka duduk bersama, bercanda bersama.

Selain itu, baritan juga diadakan rutin setahun sekali, maka dari itu banyak warga yang tidak mau melewatkan momen bersejarah ini. Bahkan ada yang sengaja sejenak meniggalkan kesibukannya hanya untuk demi tradisi baritan. Tetapi itu tidak semuanya yang melakukan, karena sebagian besar warga Desa Kaligintung pencaharian sebagai petani. Kesimpulannya tanggapan masyarakat dengan adanya tradisi baritan ini ialah sangat antusias, disamping pada era ini banyak kaum muslim  yang lebih sibuk mempersiapkan perayaan tahun baru baru masehi yakni tahunnya orang nasrani daripada tahun Baru Hijriyah sehingganya rela membuang – buang uang untuk menyalakan kembang api disana sini.

Karena berbagai faktor diatas yang menyebabkan tradisi baritan terus dipertahankan dan dilestarikan dan semoga terus berkembang hingga anak cucu kita di masa depan.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image